. Generasi Seni Reog Ponorogo
LESTARIKAN BUDAYA LELUHUR

Minggu, 21 Februari 2010

WAROK


Tradisi Masyarakat Ponorogo memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dengan masyarakat lain di Jawa. Literatur Jawa mengenal istilah Warok Ponorogo, namun Icon Warok itu sendiri sampai sekarang masih belum bisa didefinisikan secara tegas. Beberapa dugaan misalnya, kata warok disinonimkan dengan kata weruk (Jawa) yang berarti besar sekali, nampak berbeda dengan pengertian wara’ dalam literatur sufi yang berarti menjauhkan diri dari segala sesuatu yang di dalamnya mengandung syubhat. Kenyataannya, Warok bukan hanya seorang yang berperawakan besar dan gagah perkasa, tapi ia figur ksatria yang berbudi pekerti luhur, memegang norma sosial secara ketat, dan memiliki kelas yang tinggi di kalangan masyarakat Ponorogo. Kehidupan Warok tidak dapat dipisahkan dari kesenian reyog, sebab ia pimpinannya. Ia sangat tinggi kedudukannya, berwibawa, dan dapat mempengaruhi konco reyog baik segi tingkah laku sosial maupun spiritualnya.





Profil Warok PonorogoMasyarakat Ponorogo tidak berbeda dengan masyarakat di kota lain. Lebih-lebih dengan pesatnya perkembangan kebudayaan serta semakin mudahnya perhubungan antar daerah, maka sudah barang tentu orang sukar untuk membedakan mana penduduk Ponorogo dan mana yang bukan.

Kalau orang mengenal Warok Ponorogo, sebenarnya ia sudah mulai mengenal sebagian ciri khas daerah. Identitas Warok biasanya hanya dikenal pada pakaiannya yang serba hitam saja. Pakaian ini adalah pakaian asli daerah Ponorogo. Sedangkan pengertian Warok itu sendiri sampai sekarang masih belum dikenal dengan pasti. Dalam pengertian sehari-hari, kata warok sinonim dengan kata weruk yang berarti besar sekali, misalnya weduse wis weruk, artinya kambingnya sudah besar sekali, endi warokane?, artinya manakah yang paling besar, paling kuat, dan paling berani?

Bila memperhatikan contoh di atas, maka kata warok atau weruk berarti yang paling besar. Hal ini tampak dalam kalimat endi warokane? Jadi yang paling besarlah yang mendapat sebutan Warok. Kalau ada sekelompok anak atau sekelompok orang dewasa, maka yang diberi sebutan Warokan ialah mana yang paling berani, paling kuat, dan paling besar.

Dalam literatur sufi (mistisisme Islam) dikenal istilah warak (wara’), yaitu menjauhkan diri dari segala sesuatu yang di dalamnya mengandung syubhat, ترك الشبهات, karena dengan mendekati syubhat seseorang akan terjerumus kepada sesuatu yang haram. Wara’ adalah sebuah strata, kelas bagi seorang yang menempuh jalan sufi, atau populer disebut bagian dari maqamat dalam tasawuf. [3] Hal ini, -- sebagaimana yang dikutip oleh Simuh -- dari pendapat Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi yang menyebutkan ada tujuh maqam dalam tasawuf, yaitu: التوبة والورع والزهد والفقر والصبر والتوكل والرضا, “taubat, wara’, zuhud, fakir, sabar, tawakkal, dan ridha.[4]

Para sufi membagi warak atas dua bagian. Pertama, warak lahiriah, yakni tidak menggunakan anggota tubuhnya untuk hal-hal yang tidak diridhai Allah. Kedua, warak batiniyah, yaitu tidak menempatkan atau mengisi hatinya kecuali dengan Allah.[5]

Kata Warak tidak terdapat dalam Alquran. Secara harfiah, warak dekat dengan kata wara’ yang artinya menahan diri supaya tidak jatuh kepada kecelakaan. Ringkasnya, wara’ adalah nilai kesucian diri. Orang Islam mengukur keutamaan, makna, atau keabsahan gagasan dan tindakan dari sejauh mana keduanya memproses penyucian dirinya. Berbahagialah orang yang menyucikan dirinya, dan celakalah orang yang mencemari dirinya (Q.S. 91: 9 – 10). Sedangkan salah satu misi Nabi Muhammad Saw. adalah “mensucikan kamu” (Q.S. 2: 151; 62: 2 dan 3: 164).

Dalam terminologi budaya Ponorogo, Warok memiliki arti yang khas. Dalam pengertiannya, Warok dibedakan dari Warokan. Warok ialah seorang pemimpin yang membawahi Warokan. Jadi Warokan berada setingkat di bawah Warok. Warokan terdiri dari pemuda-pemuda jagoan yang pada grup kesenian Reyog ia menjadi pemain ganongan atau yang memainkan barongan. Mereka adalah para pemuda pilihan yang telah membekali diri dengan ilmu. Sedangkan Warok ialah (pinituwa) pemimpin.

Seorang disebut Warok jika ia sudah besar sekali wibawanya dan besar sekali kedudukannya dalam masyarakat. Ia disegani dan dihormati. Gambaran wantah dari seluruh jiwa Warok diwujudkan dalam bentuk yang berperawakan tinggi besar, berkumis, dan berjanggut panjang. Pada pipi dan dada tumbuh bulu-bulu hitam. Ia memakai pakaian yang serba hitam. Menurut kepercayaan setempat, hitam mengandung makna keteguhan. Sedangkan lambang kesucian budi, ilmu, dan tingkah berupa ikat pinggang--koloran, usus-usus (Jawa)--yang berwarna putih, panjang, dengan ujungnya terurai. Dari sini akhirnya, didapat pengertian bahwa manusia itu perlu sekali dikuatkan dengan kesucian budi, ilmu, dan tingkah laku.

Dahulu, Warok pada umumnya menjabat sebagai Demang. Sedangkan dalam kesenian reyog ia sebagai pimpinan, yang sekaligus menjadi pemain barongan. Demikian ini dengan harapan agar jiwa ksatria dan keteguhan hati itu secara tidak langsung dapat menjiwai seluruh konco reyog atau pelaku dalam kesenian reyog.

Orang yang mendapat gelar Warok tidak banyak jumlahnya. Kadang-kadang dalam satu kecamatan hanya terdapat satu orang Warok saja atau bahkan tidak ada. Lain halnya dengan Warokan, mereka banyak dijumpai di mana-mana, sebab mereka masih dalam proses untuk menjadi Warok. Seseorang telah disebut Warok jika telah memiliki watak dan sifat sebagai berikut:

1. Sugih ilmu lan sakti. Ilmu lan kasaktene iku ora kanggo diri pribadi, kanggo mulang marang sapa bae, malah-malah marang lingkungane. [6]

Artinya: kaya akan ilmu dan sakti. Ilmu dan kesaktiannya bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk membantu siapa saja, khususnya bagi lingkungan sekitarnya.

2. Seneng tetulung liyan kanthi, sepi ing pamrih rame ing gawe, yen perlu gelem dadi korban. [7]

Artinya: Suka menolong sesama, tidak suka mengharap tapi banyak berbuat, bahkan jika perlu ia bersedia menjadi korban

3. Ngayomi marang kulowargo, tonggo teparo, lingkungan masyarakat ing desa dan negarane. [8]

Artinya: Melindungi keluarga, tetangga, lingkungan masyarakat desa dan negaranya.

4. Yen ana gawe parigawe, ngenthengake tenagane, ora ngetung marang kesangsarane laku. Yen ora ana gawe cukup ana buri, jeneng tut wuri handayani. [9]

Artinya: Jika orang lain punya kesibukan, ia suka membantu, tanpa memperhitungkan jasa. Tetapi jika tak ada kesibukan ia cukup berada di belakang, tut wuri handayani, memberi dukungan dari belakang.

5. Watake kena diucapake: “Yen lemes kena kangge tali, nanging yen pinuju kaku kena kanggu pikulan”. Tegese watak gelem ngalah, nanging yen ora keno dikalahi malah dadi musuh kang bebayani.[10]

Artinya: Wataknya bisa dikatakan; ketika lunak ia bisa menjadi tali pengikat, tetapi ketika keras dapat menjadi pengungkit. Artinya, ia punya watak mau mengalah, tetapi jika tidak bisa dikalahkan justru menjadi musuh yang berbahaya.

6. Sipat adil, temen, lan jujur. Ora pilih kasih, sing bener tetep diucapake bener, sing slah kudu seleh. Senanjanta marang bocah cilik, yen salah ya ngakoni kesalahane, kanti ucap temen lan jujur. [11]

Artinya: Bersifat adil, amanah, dan jujur. Tidak pandang bulu, yang benar dikatakan benar dan jika salah harus mengalah. Walaupun terhadap anak kecil, jika berbuat kesalahan harus mengakuinya, dengan berkata benar dan jujur.

7. Bisa dadi pandam pengaubane sesama, dadi papan pitakonan apa bae. Suka wewarah becik aweh pepadang marang wong lagi kepetengan ati. Aweh bungah marang wong lagi ketaman susah. Aweh teken marang wong kang kalunyon, aweh boga marang wong kang lagi nandang luwe.[12]

Artinya: Bisa menjadi rujukan, dan tempat bertanya tentang apa saja. Suka mengajarkan kebaikan, memberi penerang hati yang sedang kelam, menghibur orang yang susah, memberi tongkat bagi yang terpeleset, dan memberi makan kepada yang sedang kelaparan.



Di dalam Kitab Babad, Purwowijoyo menerangkan bahwa Warok berasal dari bahasa Jawa wirangi yang artinya orang yang sangat mengerti terhadap tingkah lau baik secara lahir maupun batin, sehingga ia selalu merasa malu bila melanggar kebenaran dan keadilan. Hidupnya hanya untuk sesama, masyarakat, dan negara. Semuanya dilandasi niat hanya untuk Allah. Warok berwatak lemah lembut terhadap sesama, tetapi kejam dan bengis kepada musuh “yen lemes kena kanggo tali, yen kaku kena kanggo pikulan”.[13]

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Warok dalam terminologi budaya Ponorogo tidak jauh berbeda dengan wara’ dalam literatur sufi. Jika Warok Ponorogo adalah seorang tokoh yang menempatkan dirinya pada posisi kebenaran dan keadilan, suka memberi pertolongan, memberi perlindungan, dan tumpuan bagi yang lemah, maka dalam tradisi Islam hal ini ada pada diri Salman, seorang sahabat Rasulullah Saw.

Salman adalah seorang sahabat Nabi yang terkenal dengan wara’-nya sehingga dia dianggap sebagai keluarga Nabi, ahli bait. Rasul berkata: Salman minna ahlulbayt. Ia meninggalkan keluarga dan tanah airnya di Ji, Ram Hurmuz, Persia, menjelajah berbagai negeri, sampai menjadi budak belian, hanya karena ia ingin mendekati manusia suci yang telah dijanjikan oleh kitab-kitab suci terdahulu.

Ketika diangkat menjadi gubernur pada zaman pemerintahan Umar, ia ditemukan orang memikul barang untuk orang lain. Ia tidak mau memakan tunjangan jabatannya. Bukan karena gaji itu haram, tetapi karena ia lebih memilih makanan dari hasil keringatnya sendiri. Ia merasa itulah hartanya yang paling bersih. Bila kini ada orang memilih hidup yang bersih, walaupun harus mengorbankan keuntungan, kekuasaan, popularitas, dan sebagainya, maka itulah seorang wara’, tetapi Warok Ponorogo walaupun mirip, ia adalah orang Ponorogo yang memiliki karakter menjaga harga dirinya secara ketat. Di Ponorogo tidak ada seorang Warok pun yang sudi menjadi bawahan Warok yang lain. Di antara mereka ada rasa saling menghormati dan saling menyegani, tetapi tidak mau menjadi bawahan.


2. Kehidupan Sosial Warok Ponorogo

Seorang tokoh Warok Kusni Gunopati mengatakan: “Pramilo sedoyo lelampahan ingkang sumedyo dipun lampahi puniko penujunipun mboten sanes inggih dateng kewilujengan lan kautaman”. (Semua amal perbuatan itu tujuannya adalah keselamatan dan keutamaan). Oleh karena itu, menurutnya seorang warok hanyalah orang yang perilakunya dalam bermasyarakat tidak meninggalkan sembilan jenis keutamaan (kawruh utama), yaitu: 1) ora duweni ati cidro (berhati bersih dan suci), 2) ora nganti kalebon tumindak kang nisto (jangan sampai terjerumus dalam kehinaan), 3) temen, resik, eling (jujur, tulus, dan teguh), 4) nyudo marang pepinginane panca driya (mengurangi keinginan panca indera), 5), eling, rila, sentosa (iman, ridha, dan sabar), 6) ora ngrengkuh kalawan ambeda-beda (tidak pandang bulu), 7) welas asih marang sapodo-podo, (berbelaskasih terhadap sesama), 8) lahire kang tumemen, batine kang bening, (jujur lahir batin), 9) mangeran gesang (hidup seperti Tuhan).[14]

Dalam hidup bermasyarakat, Warok Ponorogo taat kepada aturan “keselarasan antara jawab dan patrap (ucapan dan tingkah laku). Bila berkata harus diusahakan yang benar-benar bermanfaat bagi yang mendengar, tidak menimbulkan keluh kesah dan sakit hati, juga dalam amal perbuatannya. Oleh karena kebiasaan Warok menjaga perasaan dan ketenteraman orang lain inilah oleh masyarakat Ponorogo ia ditempatkan pada kedudukan yang tinggi dalam masyarakat, seorang yang selalu menjadi rujukan.

Kedudukan sosial yang tinggi memotivasi seorang Warok untuk tampil sebagai pemimpin dan memiliki anak buah yang disebut Warokan. Hal ini dapat dimengerti karena seperti masyarakat Ponorogo pada umumnya, seorang Warok memiliki sifat percaya diri, selalu menjunjung tinggi harga dirinya, selalu menjadi tuan atas dirinya sendiri, dan merasa menjadi jagoan yang tidak mudah diatur oleh orang lain. Biasanya tidak ada seorang Warok pun yang sudi menjadi bawahan Warok lain. Mereka saling segan dan menghormati. Dalam masalah pribadi, biasanya juga diselesaikan secara pribadi, satu lawan satu, sportif, dan kesatria, berhadapan langsung tanpa melibatkan orang lain.

Penyandang gelar Warok lazimnya adalah orang-orang yang mumpuni, tidak sembrono, dan lurus hati. Walaupun berwatak keras, tetapi tergolong orang yang baik hati, tidak suka membuat keonaran, tetapi sebaliknya menjadi payung pengaman bagi masyarakat, suka menolong, jujur, dan sukar diajak kompromi dalam berbuat jahat.

Para Warok, umunya memiliki daerah kekuasaan tertentu dan disegani oleh masyarakat setempat. Di antara mereka sulit untuk bersatu, bahkan cenderung untuk bersaing dan berebut pengaruh demi memantapkan posisinya. Agar upayanya tercapai, para Warok melengkapi diri dengan selalu mempertajam kekuatan ilmu kanuragan dan keutamaan batin hingga ke luar daerah.


3. Spiritualisme Warok Ponorogo

Seorang tokoh Warok mengatakan: “antara warok, reyog,[15] dan konco reyog[16] itu merupakan pasangan yang tidak terpisahkan”. Di mana ada grup kesenian reyog pasti di situ ada Warok. Peran Warok besar sekali di dalam membentuk mental spiritual konco reyog. Kesenian reyog Ponorogo memiliki nilai-nilai luhur yang perlu dipertahankan dan dikembangkan. Nilai-nilai luhur itu meliputi: nilai filosofis, nilai edukatif, dan nilai religius (sakral). Dari kandungan nilai-nilai religius inilah unsur-unsur yang menjurus kepada hal-hal yang menyimpang dari ajaran agama dihilangkan secara berangsur-angsur.

Warok Kusni Gunapati menuturkan: bahwa kata reyog mengandung penjabaran huruf r = rasa kidung, e = engwang sukma adiluhung, y = ywang agung kang pirsa, o = oleh kridaning gusti, dan g = gelar-gulung kersane kang kwasa”. Maksudnya, istilah reyog mengandung arti: segala puji bagi Tuhan yang Maha Agung, semua yang terjadi adalah karena kehendak-Nya”.[17]

Dalam kehidupan ber-ngelmu juga dalam kehidupan sehari-hari Warok Ponorogo, sering dipakai nama panggilan Gusti bagi Tuhan. Sebutan Gusti itu bukan nama pribadi, tetapi nama sebutan bagi seorang yang tinggi kedudukannya atau berkuasa. Memang dalam perbendaharaan bahasa Jawa tidak ditemukan nama pribadi bagi Kang Murba ing Dumadi, tetapi di kalangan Warok Ponorogo sering digunakan nama sebutan Gusti atau Pangeran, dan nama keterangan kang murba ing dumadi, sing gawe urip, dan lain-lain.

Keyakinan terhadap Tuhan yang sering diistilahkan dengan sebutan Gusti Ingkang Maha Kuwaos inilah yang senantiasa tertanam pada diri Warok dan konco reyog secara menyeluruh. Oleh karenanya dalam kesenian reyog setiap aktivitas yang akan dilakukan, termasuk mantra-mantra yang dibaca sebagai doa selalu disandarkan kepada Tuhan dengan bacaan “basmalah”.

Dalam kitab Jawi PAMU (Purwa Aju Mardi Utama) karya seorang tokoh kejawen R. M. Djojopoernomo dinyatakan bahwa: “ana dene lelakon kang tanpa tjatjat iku kudu netepi marang agama Islam” (Hidup yang tanpa cacat harus memeluk agama Islam). Walaupun konsep ketuhanan dalam ajaran kejawen ini tidak dijelaskan bahwa ingkang maha kuwaos itu adalah Allah Swt, akan tetapi bagi para Warok yang beragama Islam (mayoritas Warok beragama Islam), semakin bisa menerima dan menanamkan nilai-nilai aqidah tersebut ke dalam hati sanubarinya. Dengan nilai-nilai aqidah yang tertanam dengan baik ini secara berangsur-angsur mampu menghilangkan hal-hal yang berbau syirik dalam kehidupan spiritualnya.

Nilai religius yang dikembangkan oleh Warok dalam hal ini adalah:

Gumelaring manungsa iki kabeh pada duwe penggayuh lan pangudi marang agama kelawan ngelmu, mungguh perlune iku mung rong prakara, jaiku; kanggo ngrenggo djiwa lawan rumeksa djiwa. Perlune pangrenggo kangge panolaking barang kang saru, perlune pangreksa kanggo netepake marang rahaju”.[18]

Artinya:

Terciptanya semua manusia memiliki cita-cita dan kehendak terhadap agama dan ngelmu, gunanya untuk dua hal yaitu: untuk menghiasi jiwa dan memelihara jiwa, fungsi penghias untuk menghindar dari hal-hal yang buruk, dan fungsi pemelihara jiwa untuk memperoleh kebaikan.

Ngelmu dalam hal ini dibedakan dari kawruh (ilmu pengetahuan) nglemu merupakan suatu cara untuk mendalami ketuhanan, yaitu mendalami ketuhanan dengan suatu cara yang lain yaitu tanpa guru dan tanpa buku, tetapi dengan Tuhan. Sedangkan ilmu pengetahuan (kawruh) adalah pengumpulan pengertian tentang suatu soal yang didapat, karena tahu. Tahu berarti mencerap perangsang indera, berkesan dan mengerti kesan itu.[19]

Seorang Warokan, mengatakan:

Manungsa iku makhluk lair lan batin, yo katon yo ora katon. Mula kuwi bisa sesaba marang sepada-pada kang katon uga kang ora katon. Manungsa bisa manunggal tekat, manunggal gawe, lan liya-liyane kalawan sepada-pada kanti migunaake kawruh lahir, manungsa uga bisa menunggal karsa kalawan kang Maha Kuwasa kanti ngeraga sukma.[20]

Artinya:

Manusia adalah makhluk yang terdiri dari dua unsur, jasmani dan rohani. Unsur jasmani dapat dilihat, sedangkan unsur rohani tidak. Oleh karena itu di samping bisa beradaptasi dengan sesamanya ia juga bisa menyadap keberadaan Tuhan dan menyamakan kemauan dengan Tuhan melalui raga sukma.

Dalam kehidupan sehari-hari Warok Ponorogo selalu mengolah batinnya agar bisa sejiwa atau sesuai dengan prinsip hidup yang diterima dalam hati. Sebagai seorang petani, Warok Ponorogo mengenal filsafat “pak tani mengolah dan menggarap sawah”. Mengolah tanah mengandung pengertian: menyediakan alat-alatnya untuk menggarap tanah, membajak, menggaru, mencangkul, dan memupuk. Sedangkan menggarap adalah aktivitas yang dilakukan setelah proses pengolahan.

Bajak (luku Jawa) sebagai alat untuk menggarap tanah dapat diasosiasikan dengan kehidupan spiritual. Nama-nama bagian dari bajak itu dalam bahasa Jawa adalah:

Cekelan (pegangan), cekelan atau pegangan di dalam kehidupan spiritual yang tertentu memudahkan untuk mencapai tujuan. Dalam rangka mengetahui larangan dan kewajiban manusia terhadap Gusti seyogyanya manusia mencari pegangan.

Tanding, (membanding, memikirkan, menimbang). Semua pengertian rohani yang diperoleh dari pegangan jangan sampai diterima apa adanya, tanpa memikirkan dan membandingkan dengan yang lain, agar dapat menempatkan sebagaimana mestinya.

Singkal, (sing tinemu ing akal). Dengan cara yang dapat diterima akal budi manusia. Hanyalah pengertian yang wajar yang dapat mendamaikan hati dan diterima logika akal dan logika hati.

Kajen, (menyang kasawijen). Kedalaman manunggaling kawula gusti. Satu-satunya tujuan rohani adalah persatuan rasa dan persatuan karsa. Kepada tujuan ini semua pemikiran dan gagasan rohani harus terarah.

Tuntunan (pimpinan). Semua pangikut ngelmu harus patuh terhadap tuntunan daya gaib Gusti. Guru nglemu hanya berkewajiban mempersiapkan untuk hidup berngelmu.

Pasangan (dua tempat kerja yang berpasangan). Kedua daya kerja yang membawa manusia maju dalam hidup rohani adalah: Daya gaib Gusti dan daya kodrat manusia, yaitu niat dan patrap (perbuatan). Untuk kelancaran hidup berngelmu manusia harus sesuai antara niat dan patrap.

Sawet (sawetah). Sawet ada dua, demikian pula sawetah; sawetah yang bersifat tan-ana dan sawetah yang bersifat mawana.

Racuk (ngeraho pucuk). Tujulah yang paling atas. Satu-satunya tujuan yang paling sempurna dalam hidup berngelmu ialah kebebasan kekal.

Bajak sawah digunakan oleh petani untuk menggarap sawah ladangnya, membalik tanah agar tanah subur yang berada di bawah bisa menimbuni tanah gersang di bagian atas. Di atas tanah yang subur tentu tanaman akan tumbuh subur dan baik buahnya.

Jika dikaitkan dengan kehidupan spiritual Warok Ponorogo, mengolah tanah adalah simbul dari olah batin. Sedangkan menggarap tanah adalah simbul dari hidup ber-ngelmu. Ngelmu adalah pengetrapan lelaku. Lelaku adalah jalan hidup yang bertitik tolak dari niat dan tekat manusia dan bertujuan cita pengharapan ngelmu. Begitulah yang diharapkan dalam kehidupan spiritual. Ngelmu dapat tumbuh dan berkembang pada batin manusia yang telah dibersihkan dari hal-hal yang tidak diterimanya. Dari batin yang bersih akan melahirkan manusia suci yang bermanfaat bagi sesamanya.

Manusia suci dalam Islam disebut manusia takwa (QS. 10: 62 – 64). Manusia takwa adalah wali-wali Allah yang “semula mati kemudian Kami hidupkan dan Kami berikan cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia” أومن كان ميتا فأحييناه وجعلنا له نورا يمشي به في الناس (QS. 6: 122).

Untuk memperoleh cahaya yang terang diperlukan upaya sebagaimana diperlukan sekolah untuk mendidik manusia-manusia intelektual, maka diperlukan pula madrasah ruhaniyah untuk menghasilkan manusia-manusia takwa. Madrasah ruhaniyah ini dalam Islam adalah puasa.

Di kalangan Warok Ponorogo berlaku amalan-amalan untuk mempertebal kekuatan spiritualnya. Salah satunya adalah puasa. Melakukan puasa bagi mareka ada bermacam-macam cara tergantung tujuan yang hendak dicapainya. Secara keseluruhan amalan puasa Warok Ponorogo mengikuti aturan syariat Islam, tetapi terdapat aturan tambahan yang berasal dari tradisi lain, sebagai berikut:

Puasa ngrowot, yaitu berpuasa dengan berpantang nasi, makanan yang mengandung gula, rasa pedas, dan rasa asin.

Puasa ngidang, yaitu hanya makan sayur-sayuran saja dengan tangan diikat di bambu kuning, bila makan harus dengan menggunakan mulutnya seperti kijang, tidak boleh dengan tangan atau kaki.

Puasa mendem, yaitu tinggal di dalam lubang tanah, tidak boleh terkena sinar matahari atau cahaya apapun, gelap seperti dalam liang kubur.

Puasa patigeni, yaitu harus bertapa di dalam bilik, dilarang melihat api, tetapi boleh minum air putih. Puasa ini berlangsung sehari semalam sejak pertengahan malam hingga paroh malam berikutnya.

Puasa mutih, yaitu hanya boleh makan nasi putih, tanpa lauk-pauk, minum hanya dengan air putih, dan dilakukan sama dengan puasa mati geni.

Puasa ngalong, yaitu hanya diperbolehkan makan buah-buahan, bila malam dilarang tidur, mata tidak boleh terpejam walau sekejap, harus melotot seperti kelelawar.

Puasa ngasep, yaitu hanya boleh minum air putih murni dingin tanpa dicampuri apapun dan makan makanan yang telah dingin.

Puasa ngepel, yaitu boleh makan nasi dengan cara dikepal, digenggam sebanyak bilangan angka ganjil.

Puasa ngebleng, yaitu tidak boleh makan minum jenis apapun, tidak boleh tidur semalam suntuk, kecuali menjelang terbit matahari, tidak boleh keluar dari bilik meskipun untuk keperluan buang air besar dan kecil.



D. Penutup



Warok adalah simbol penghargaan sosial yang tinggi di Ponorogo. Siapapun yang menyandang gelar Warok di pundaknya dipikul tanggung jawab kemanusiaan dan kemasyarakatan.

Pada kehidupan spiritual Warok Ponorogo telah terjadi akulturasi ajaran tasawuf Islam dan tradisi Jawa tradisional, sehingga disebut Islam kejawen. Hal ini nampak pada kebiasaan warok dalam menyebut nama Tuhan menggunakan nama Gusti, Gusti Allah Ingkang Maha Kuwaos, Tuhan yang Maha Esa dan Pangeran, Pageran Ingkang Maha Agung, Tuhan yang Maha Agung. Beberapa amalan seperti puasa, juga dilakukan dengan memadukan antara ajaran Islam dengan ajaran Jawa tradisional, sehingga ada istilah puasa ngrowot, ngidang, patigeni, mutih, ngasep, dan lain-lain.
Walaupun di dalam spiritualisme Warok Ponorogo terdapat keunikan dalam amaliahnya, tetapi hal ini dilakukan untuk mempertebal kekuatan spiritualnya. Mereka memahami Islam dalam keterkaitan dengan kepercayaan dan tradisi setempat
Read More : WAROK

Pesona air terjun tumpuk sawoo


Suatu senja sore dan tanpa direncanakan sebelumnya, dan dari pada bengong dirumah, maka saya dan teman saya mencoba keliling lagi karena sudah lama tidak mengadakan penjelajahan, khususnya daerah Ponorogo dan sekitarnya. Yup, bertempat di Desa Tumpuk Kecamatan sawoo Ponorogo, yang tepatnya desa sebelum perbatasan Ponorogo-trenggalek, saya mencoba mencari suatu tempat untuk hanya sekedar foto-foto untuk narsis. Ya sebelumnya saya juga tidak tahu akan kemana tujuannya, tapi setelah mengamati dari jalan raya Ponorogo-Trenggalek (pandangan saya arahkan ke suatu lembah). dan saya pun menuju ketempat tersebut. Dan ternyata benar saja, saya dapat menikmati pemandangan yang luar biasa dibawah jembatan yang akan menuju desa tersebut.

Batu-batu besar, kelokan-kelokan air yang terbentuk proses alam, jernihnya air yang segar, menghiasi proses pengambilan gambar. Dan kalau saya bisa berkata, ini adalah seperti water boom alami, karena bentuk aliran diatas batu cadas yang halus bekelok-kelok. Aliran air disungai yang namanya sendiri kurang tahu namanya ini membentuk air terjun tiga tingkat yang rta tingginya sekitar 4 sampai 7 meter, dan setiap tingkat mempunyai kolam besar yang dalam dibawah jatuhnya air tersebut.
Read More : Pesona air terjun tumpuk sawoo

Wisata Ngembak Ponorogo


Salah satu taman wisata potensial yang ada di Ponorogo adalah Taman Wisata Ngembak. Taman yang cukup dekat dengan pusat kota ini menawarkan berbagi sarana untuk bermain dan sangat tepat sebagai tujuan berlibur keluarga. Selain dekat tiket masukpun cukup terjangkau.

Sebelumnya Ngembak dikenal sebagai mata air yang tak terawat. Sekarang oleh Pemkab Ponorogo di sulap sebagai taman kota yang dilengkapi dengan kolam renang anak dan juga beberap permainan anak-anak.

Selain di atas, ada wahana baru yakni . Hmm… menarik bukan tinggal mengayuh sepeda dari pusat kota ke arah timur (ke arah Jeruksing) Anda akan menjumpai taman wisata yang menyenangkan buat keluarga. Sayangnya taman wisata ini tidak diimbangi dengan luas lahan. Sudah seharusnya pejabat berwenang memikirkan perluasan lahan
Read More : Wisata Ngembak Ponorogo

Dawet Jabung


Sehari selepas HUT Kemerdekaan RI ke-64. 18 Agustus 2009. Orang-orang masih berpanjat pinang atau berbalap karung. Tetapi bagi kami, tak ada yang lebih penting ketimbang mengayuh sepeda kumbang menuju luar kota.

Hari ini, kami tunaikan nadzar kami 17 tahun yang lalu. Bahwa jika kami lulus UMPTN dan diterima di Perguruan Tinggi pilihan, maka kami akan mengadakan perjalanan naik sepeda angin keluar kota Ponorogo. Maka diterimalah saya di Jurusan Teknik Komputer ITS Surabaya. Sedangkan Mohan, sahabat senasib senadzar itu, diterima di Fakultas Psikologi UGM Jogjakarta -- yang kemudian tak benar-benar dimasukinya itu.



Sebuah nadzar yang terkesan main-main barangkali. Karenanya tak heran jika isteri saya masih setengah percaya setengah tidak ketika kami putuskan untuk pulang di HUT RI ke-62 ini untuk menyelesaikan nadzar yang tertunda 17 tahun itu. Bagaimanapun, sesederhana apapun, nadzar tetaplah nadzar.

***

Bukan tanpa alasan kami memilih Jabung sebagai tujuan kunjungan kami menggunakan sepeda angin ini. Jabung berada di luar kota Ponorogo -- syarat nadzar kami. Tempat itu tak terlampau jauh dijangkau dari kota. Dan ini yang penting, ketika tiba di Jabung, maka rasa dahaga kami sudah tersedia obatnya di daerah itu. Karena Jabung terkenal dengan dawet Jabung yang khas.



Sepanjang jalan 6 km dari kota ke arah selatan Ponorogo adalah jarak yang tak terlampau jauh untuk ditempuh. Apalagi bersepeda angin sambil berbincang tentang masa 17 tahun yang lewat, membuat jarak serasa begitu dekat. Sawah yang masih menghijau di kanan kiri jalan membuat pegal linu di tungkai seperti terusir diam-diam. Bahkan ketika cerita belum selesai, tempat tujuan sudah tercapai. Kamipun lantas menghabiskan cerita nostalgia itu dengan duduk-duduk di rerimbunan pohon pinggir jalan, sambil melepas lelah.

***

Jabung bisa ditempuh lewat jalur Jeruk Sing, Siman, atau memutar melalui Dengok, selatan Alun-alun kota Ponorogo. Berjarak sekitar 6 km dari Jeruk Sing. Tempat itu bisa dijangkau dengan mobil angkutan umum, dokar, atau bersepeda angin seperti saya. Tentu saja silakan jika Anda bermobil pribadi atau bersepeda motor.

Tempat itu dekat dengan Mlarak, tempat di mana komplek Pondok Pesantren Gontor yang terkenal itu berada. Perempatannya merupakan persimpangan ke PP Gontor (Timur), Jetis (Selatan), PP Ngabar (Barat), serta Siman di utara. Di perempatan itulah pusat penjual dawet Jabung mangkal, turun-temurun.



Salah seorang diantaranya, yang telah sangat lama berjualan di sana adalah Hj. Sumiani. Warungnya terletak di pojok Timur-Selatan perempatan Jabung. Strategis, karena terlihat dari hampir setiap tempat. Tak terlampau besar, tetapi lengkap. Dan yang penting, tak pernah sepi pengunjung. Di sanalah kami puaskan rasa dahaga dan rindu. Dua mangkok dawet dan empat penganan serasa sama dengan makan siang.



Dan seperti tercengang yang direncanakan, meski kami memborong 28 mangkok dawet dan 45 penganan, kami hanya mengeluarkan kocek Rp. 32.500,- saja! Tentu sebagian (besar) kami bawa pulang untuk keluarga.

***

Jika Anda ke Ponorogo, tak lengkap rasanya jika tak menyempatkan diri mencicipi dawet Jabung yang melegenda dan masih super murah ini. Meski sayang keberadaannya seperti tidak mendapatkan perhatian yang serius dari pemda setempat (dari tahun ke tahun tak ada pertambahan dan pertumbuhan yang berarti), tetapi setidaknya Jabung masih menjadi tujuan wisata kuliner yang layak untuk dikunjungi.
Read More : Dawet Jabung

Sejarah Berdirinya Pondok Gontor

Drs. H. Husnan Bey Fananie, MA. sangat terkait dengan Pondok Modern Gontor. Beliau adalah cucu dari Pendiri Pesantren ini yang didirikan pada 10 April 1926 di Ponorogo, Jawa Timur oleh tiga bersaudara putra Kiai Santoso Anom Besari. Tiga bersaudara ini adalah KH Ahmad Sahal, KH Zainudin Fananie, dan KH Imam
Zarkasyi dan yang kemudian dikenal dengan istilah Trimurti (foto dibawah ini). Pada masa itu pesantren ditempatkan diluar garis modernisasi, dimana para santri pesantren oleh masyarakat dianggap pintar soal agama tetapi buta akan pengetahuan umum. Trimurti kemudian menerapkan format baru dan mendirikan pondok gontor dengan mempertahankan sebagian tradisi
pesantren salaf dan mengubah metode pengajaran pesantren yang menggunakan sistem wetonan (massal) dan sorogan (individu) diganti dengan sistem klasik seperti sekolah umum. Pada awalnya Pondok Gontor hanya memiliki Tarbiyatul Atfhfal (setingkat taman kanak kanak) lalu meningkat dengan didirikannya Kulliyatul Mu’alimat Al-Islami (KMI) yang setara dengan lulusan sekolah menengah pertama. Pada tahun 1963 pondok gontor mendirikan Institut Studi Islam Darussalam (ISID). Foto di atas adalah foto KH. Zainudin Fananie (duduk di tengah, jas hitam), Istri beliau, Hj. Rabiah (duduk di kiri), dan adik istri Beliau, Hj. Samsidar (duduk sebelah kanan), KH. Imam Zarkasyi (nomor dua berdiri dari kanan).

Pesantren Gontor dikelola oleh Badan Wakaf yang beranggotakan Tokoh-tokoh alumni pesantren dan Tokoh yang peduli Islam sebagai penentu Kebijakan Pesantren dan untuk pelaksanaannya dijalankan oleh tiga orang pengasuh (Kyai) yaitu KH. Hasan Abdullah Sahal (Putra KH Ahmad Sahal). KH Syukri Zarkasyi (putra KH.Imam Zarkasyi) dan KH. Imam Badri. Tradisi pengelolaan oleh tiga pengasuh ini melanjutkan pola
Trimurti (Pendiri).

Pada saat peristiwa Madiun tahun 1948 saat Muso telah menguasai daerah Karesidenan Madiun (Madiun Ponorogo, Magetan, Pacitan dan Ngawi) dan membunuhi banyak tokoh agama, TNI sudah dilumpuhkan oleh PKI, Pesantren Gontor diliburkan dan santri serta ustadnya hijrah dan menghindar dari kejaran pasukan Muso. KH. Ahmad Sahal (alm) selamat dalam persembunyian di sebuah Gua di pegunungan daerah Mlarak. Gua tersebut kini disebut dengan Gua Ahmad Sahal. Kegiatan Pendidikan Pesantren dilanjutkan
kembali setelah kondisi normal.

Pandangan Modern KH Ahmad Sahal, sebagai Pendiri tertua dari Trimurti dan kedua adiknya yaitu KH. Zainudin Fananie dan KH. Imam Zarkasyi diwujudkan pula dalam menyekolahkan putra-putrinya selain di sekolah agama (pesantren) juga di sekolah umum. Drs. H. Ali Syaifullah Sahal (alm) alumni Filsafat UGM dan sebuah Universitas di Australia, dosen di IKIP Malang; Dra. Hj. Rukayah Sahal dosen IKIP (UMJ) Jakarta dll.

Dan tentu menjadi bahan pemikiran anggota Badan Wakaf saat ini untukmewujudkan Pesantren Gontor menjadi semacam Universitas Al Azhar di Mesir, sebuah universtas yang memiliki berbagai bidang kajian (Agama serta Ilmu dan Teknologi) berbasis Islam.

Pada tahun 1994, didirikan pondok khusus putri untuk tingkat KMI dan pendidikan tinggi yang khusus menerima alumni KMI. Pondok khusus putri ini menempati tanah wakaf seluas 187 hektar. Terletak di Desa Sambirejo, Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Kini, pondok khusus putri memiliki empat cabang, tiga cabang berlokasi di Ngawi dan satu cabang di Sulawesi Tenggara.

Hingga kini Gontor telah memiliki 10 cabang yang terdiri dari 13 kampus di seluruh Indonesia dan santri/ santriwatinya mencapai 14.273 orang. Tidak seperti pesantren pada umumnya, para pengajarnya pun
berdasi dan bercelana panjang pantalon.
Read More : Sejarah Berdirinya Pondok Gontor

TINGGALKAN JEJAK ANDA


ShoutMix chat widget

280 Px

Generasi Seni Reog Ponorogo

  © Blogger templates The Transformers by Blog Tips And Trick 2009